Rabu, 09 September 2015

Data Ekonomi China Masih Buruk

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA -  Setelah Juli lalu ekspor China anjlok tajam yang mendorong Bank Rakyat China akhirnya mendevaluasi nilai tukar mata uang yuan, data untuk Agustus rupanya masih belum membaik. Perekonomian terbesar kedua dunia itu rupanya benar-benar mengalami perlambatan yang ditunjukkan oleh penurunan ekspor sebesar 5,5% pada bulan lalu dibanding periode yang sama 2014.
Hasil gambar untuk ekonomi cinA


Dalam ukuran dolar, nilai ekspor China sepanjang delapan bulan pertama 2015 ini menurun 1,4% yang menandakan memang ada pelemahan permintaan di luar. Sedangkan, anjloknya impor China sebesar 14,1% dalam denominasi yuan juga menunjukkan adanya pelemahan aktivitas ekonomi dan terutama industri.

Keluarnya data ini telah membuat sebagian pelaku pasar global semakin cemas, mendorong indeks bursa saham Jepang Nikeei 225 melemah 2,4% dalam penutupan perdagangan Selasa 8 September, meskipun data pertumbuhan ekonomi Jepang menunjukkan kontraksi yang lebih kecil dari prediksi kuartal lalu. Sejak mencapai titik tertinggi selama 19 tahun pada Juni lalu, Indeks Nikkei 225 telah anjlok 16% dan menghapus kenaikan sejak awal tahun. Indeks MSCI Asia Pasifik juga turun ke titik terendah sejak November 2012 dan menuju ke pelemahan kedelapan pekan berturut-turut yang merupakan periode penurunan terpanjang dalam 23 tahun.

Meski demikian, indeks saham China justru masih bisa ditutup positif. Setelah anjlok 2,2% dalam perdagangan Selasa siang, Indeks Saham Gabungan Shanghai akhirnya menguat 2,9%. Para pelaku pasar di China tampaknya mengharapkan bakal adanya intervensi pemerintah berupa aksi beli saham lanjutan. Di bursa Asia, situasinya campur aduk antara menguat 0,35% sampai turun 0,6%. Penguatan bursa China ini ditangkap oleh para pemain di Eropa yang perdagangannya dibuka lebih lambat lima jam, membuat indeks saham kawasan sedikit menguat.

Dengan terus memburuknya data ekonomi China, spekulasi mengenai rencana kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve di Amerika Serikat semakin liar. Hanya 28% pialang berjangka yang menduga The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, turun dari 38% pada Agustus. Ada peluang 44% The Fed menaikkan suku bunga baru pada Oktober dan 59% kemungkinan hal itu dijalankan Desember.

Sumber :

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Disclaimer: Semua informasi yang terdapat dalam blogspot kami ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan berita terbaik, namun demikian kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blogspot kami ini. Kami berhak mengatur dan menyunting isi saran atau tanggapan dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menolak isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras.