PT Rifan Financindo Berjangka Solo

PT.Rifan Financindo Berjangka

SOLO Ruko Solo Square No. 5,6, dan 7 Jl. Slamet Riyadi No. 451 - 455, Surakarta 57145 Telp : (0271) 738 111 (Hunting), Fax : (0271) 738 222

Investasi Emas

Investasi Emas Berjangka Emas berjangka merupakan alternatif lain dalam melakukan investasi emas tanpa harus memiliki fisik emas. Jual beli emas berjangka membutuhkan kontrak dengan jangka tertentu. Harganya pun dinyatakan dalam kontrak. Jika harga emas pada tanggal kontrak lebih tinggi dari harga emas saat kontrak dibuat, investor akan menerima keuntungan. Namun, jika harga lebih rendah, investor akan mengalami kerugian. Investasi dalam emas berjangka mungkin merupakan investasi yang cukup berisiko karena investor harus memperkirakan gerak harga emas ke depan.

WPB yang Profesional

Perusahaan memiliki Wakil Pialang Berjangka profesional yang selalu siap memberikan pelayanan kepada calon nasabah / nasabah,berupa edukasi, prosedur administrasi dan mekanisme transaksi Sistem Perdagangan Alternatif di Bursa Berjangka Jakarta.

Pelaporan Transaksi setiap hari

Setiap hari nasabah akan mendapat Laporan Transaksi Nasabah yang berisikan catatan transaksi dan perkembangan investasi yang telah dilakukan oleh nasabah, baik via SMS, e-mail, fax, maupun melalui surat/pos. Catatan atau rekam transaksi tersebut juga dapat diakses langsung melalui online trading platform dengan memilih menu utama Temporary Statement/Daily Statement.

Outing Pondok Asri Tawangmangu

PT.Rifan Financindo Berjangka Mengadakan Outing 8 th Anniversary Bersama Back Office-Marketing Di Pondok Asri Tawangmangu, Karanganyar

Kamis, 30 Maret 2017

Harga Emas Turun Tersengat Penguatan Dolar AS

RIFAN FINANCINDO - Harga emas melemah didorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar AS ditopang dari sentimen britain exit (Brexit) yang membuat euro tertekan.

Harga emas untuk pengiriman April turun US$ 1,9 atau 0,2 persen ke level US$ 1.253,70 per ounce. Penurunan ini terjadi usai harga emas sentuh level tertinggi dalam 1 bulan.

Sedangkan harga emas untuk Juni, dan termasuk aktif diperdagangkan melemah 0,2 persen ke level US$ 1.256,80. Harga perak cenderung mendatang ke level US$ 18.252 per ounce.

Indeks dolar AS naik 0,3 persen ke level di atas 100. Sedangkan bursa Amerika Serikat (AS) cenderung bervariasi dengan indeks saham Dow Jones turun.

"Indeks dolar AS di atas 100, dan harga emas di atas US$ 1.250. Saya tidak yakin harga emas akan ke US$ 1.200. Harga emas dapat ke level US$ 1.300 seiring stok emas dapat mendorong penguatan harga emas yang didukung aksi beli," ujar Peter Spina Chief Executive Officer Goldseek.com, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (30/3/2017).

Harga emas tertekan juga didorong pemerintah Inggris secara formal telah mulai proses brexit. "Euro melemah imbas Brexit. Ketidakpastian pertumbuhan Uni Eropa dan tren nasionalisme menjadi isu ekonomi. Ini membuat dolar AS menguat sehingga menekan harga emas," kata dia.

Spina menambahkan, euro dapat kembali tertekan dalam sebulan ke depan. Ini berdampak negatif terhadap emas lantaran penguatan dolar AS.

Sementara itu, sejumlah pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS. Ini untuk mengetahui kapan bank sentral AS atau the Federal Reserve (The Fed) kembali naikkan suku bunga. Dengan kenaikan suku bunga pada Maret, ada kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga lebih dari dua kali pada 2017. Sentimen itu juga mempengaruhi harga emas.


IHSG Terus Cetak Level Tertinggi, Simak Saham Pilihan Ini 

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Hal itu didukung aliran dana investor asing masih terus masuk ke pasar modal Indonesia.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menuturkan, IHSG terlihat masih dalam rentang konsolidasi dengan indikasi kenaikan cukup besar.

Level support IHSG bertahan sehingga dapat kembali dongkrak IHSG ke level tertinggi. Ini didukung aliran dana investor asing masih terus masuk ke pasar modal Indonesia. Tercatat dana investor asing masuk mencapai Rp 1,32 triliun dalam dua hari sejak 27 Maret 2017. Aliran dana investor asing ini, menurut William dapat mendorong IHSG kembali cetak rekor.

"IHSG berpotensi menguat di kisaran 5.517-5.615," ujar William, Kamis (30/3/2017).

Sementara itu, Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi menuturkan, IHSG akan variasi dengan kecenderungan tertekan. IHSG akan berada di kisaran 5.550-5.600.

"Pergerakan IHSG secara teknikal kembali cetak rekor baru dengan bergerak mendekati level 5.600 setelah menguat pada support rata-rata tujuh harian. Dengan pergerakan yang cenderung pada area jenuh beli," jelas dia.

Analis PT NH Korindo Securities Bima Setiaji menuturkan, strategi ketika IHSG sedang terus menuju level tertinggi dapat menjual saham-saham sudah mahal secara valuasi. Pelaku pasar dapat pindah ke saham-saham yang masih memiliki valuasi murah.

"Sektor saham konstruksi dan properti masih murah. Saham-sahamnya ada PTPP dan PT Ciputra Development Tbk untuk diakumulasi," ujar Bima saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan, aliran dana investor asing juga masih akan masuk ke pasar saham Indonesia. Hal ini mengingat ekonomi Indonesia sudah membaik terutama anggaran belanja negara yang rasional dan konservatif pada 2017. "Selain itu, harga komoditas juga menguat, sehingga berpotensi mendorong tercapainya penerimaan negara," kata dia.

Ditambah, siklus kredit macet atau non performing loan (NPL) mencapai puncak pada kuartal IV 2016. Seiring penurunan NPL, Bima memperkirakan kredit tumbuh tinggi. Kemudian ada sentimen harapan kenaikan surat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional S&P.

Untuk rekomendasi saham, Lanjar memilih saham PT Timah Tbk (TINS), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Sedangkan William memilih saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

( liputan6.com )


Rabu, 29 Maret 2017

Harga Emas Turun Tertekan Kuatnya Dolar

PT RIFAN FINANCINDO - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir sedikit lebih rendah pada Selasa (Rabu pagi WIB). Turunnya harga emas karena tertekan penguatan dolar AS dan pasar saham AS memperpanjang keuntungan mereka.


Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman April turun USD0,1 atau 0,01%, menjadi menetap di USD1.255,60 per ounce.

Pada awalnya logam mulia lebih tinggi karena dukungan dari ketidakpastian politik dan ekonomi AS, serta harapan dolar yang lebih lemah. Para pedagang sedang menunggu rilis beberapa laporan ekonomi pekan ini. Pidato oleh Kepala Cabang Federal Reserve Chicago Charles Evans, laporan produk domestik bruto dan klaim pengangguran mingguan serta laporan pendapatan dan pengeluaran pribadi.

Laporan-laporan ekonomi yang dirilis pekan ini akan memberikan beberapa petunjuk tentang kapan Federal Reserve AS bermaksud untuk menaikkan suku bunga berikutnya. Investor percaya Fed akan menaikkan suku bunga dari 1% menjadi 1,25% selama pertemuan FOMC Juni.

Menurut alat pemantau Fed CME Group, probabilitas tersirat saat ini untuk menaikkan suku bunga dari 1% menjadi 1,25% mencapai 4% pada pertemuan Mei dan 47% untuk pertemuan Juni, bersama dengan peluang 2% meningkat ke 1,5%.

Perak untuk pengiriman Mei bertambah 14,4 sen atau 0,8% menjadi ditutup pada USD18,252 per ounce. Platinum untuk pengiriman April turun USD11,6 atau 1,2% menjadi ditutup pada USD957,40 per ounce.


Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Gangguan Produksi Libya

Harga minyak dunia berakhir lebih tinggi pada Selasa (Rabu pagi WIB). Menguatnya harga minyak setelah laporan-laporan menunjukkan produksi minyak Libya terganggu, sehingga menurunkan kekhawatiran tentang melimpahnya pasokan global.

Laporan-laporan media mengatakan bahwa produksi pada ladang Sharara dan Wafa di Libya barat telah diblokir oleh faksi-faksi bersenjata, sehingga mengurangi produksi minyak negara itu sekitar sepertiganya.

Para analis mengatakan berita tersebut untuk sementara mengurangi kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak global, dan mendukung harga minyak menguat.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, bertambah USD0,64 menjadi menetap di USD48,37 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, naik USD0,58 menjadi ditutup pada USD51,33 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sumber : okezone.com


Senin, 27 Maret 2017

Sinyal Perpanjangan Pemangkasan Produksi, Minyak Mentah Meningkat

RIFAN FINANCINDO - Harga minyak mentah meningkat di sesi Asia pada hari Senin setelah pertemuan akhir pekan yang melihat beberapa janji perpanjangan pemangkasan produksi terkoordinasi oleh produsen utama OPEC dan non-OPEC.

Pada akhir pekan, komite bersama menteri produsen minyak OPEC dan non-OPEC telah setuju untuk meninjau apakah pakta global pembatasan pasokan harus diperpanjang selama enam bulan. Analis sektor minyak mengatakan kurangnya perpanjangan dapat langsung menyeret turun harga minyak mentah.

Minyak mentah AS West Texas Intermediate untuk bulan Mei di Bursa Perdagangan New York naik 0,44% menjadi $48,18 di awal sesi Asia. Di tempat lain, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman bulan Mei terakhir dikutip naik 0,41% menjadi $51,01 per barel.

Dalam seminggu ke depan, pelaku pasar akan mengamati informasi mingguan baru stok minyak AS produk utama dan turunan pada hari Selasa dan Rabu untuk mengukur kekuatan permintaan konsumen minyak terbesar di dunia tersebut.

Pekan lalu, minyak berjangka ditutup lebih tinggi pada hari Jumat, tapi membukukan kerugian mingguan sekitar 2% karena pasar masih mempertimbangkan kenaikan produksi shale AS dan rekor tinggi stok minyak di AS terhadap upaya produsen utama untuk memangkas produksi dalam mengurangi melimpahnya pasokan global.

Data dari penyedia jasa ladang minyak Baker Hughes pada Jumat pekan lalu mengungkapkan bahwa jumlah rig aktif pengeboran minyak AS naik 21 pekan lalu, kenaikan mingguan kesepuluh berturut-turut. Yang menjadikan jumlah total ke 652, tertinggi September 2015.

Sementara itu, Badan Administrasi Informasi Energi AS mengatakan Rabu bahwa persediaan minyak mentah naik 5,0 juta barel pekan lalu ke level tertinggi sepanjang masa 533,1 juta, menambah kekhawatiran membanjirnya pasokan global.

Minyak telah jatuh tajam bulan ini di tengah kekhawatiran bahwa rebound produksi shale AS yang sedang berlangsung bisa menggagalkan upaya produsen utama lainnya untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran minyak global.

OPEC sepakat pada bulan November tahun lalu untuk membatasi produksi sekitar 1,2 juta barel per hari antara bulan Januari dan Juni. Rusia dan 10 produsen non-OPEC telah sepakat untuk bersama-sama memangkas tambahan sebesar 600.000 barel per hari.

Secara total, mereka sepakat untuk mengurangi produksi 1,8 juta barel per hari menjadi 32,5 juta hingga enam bulan pertama tahun ini, tapi hingga saat ini hanya berdampak sedikit pada tingkat persediaan.

Laporan bulanan terakhir OPEC menunjukkan stok minyak dunia pada bulan Januari naik menjadi 278 juta barel di atas rata-rata lima tahun.

( id.investing.com )

Jumat, 24 Maret 2017

Akhiri Penguatan, Harga Emas Melemah

PT RIFAN FINANCINDO - Harga emas melemah pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat, mengakhiri penguatan 5 hari berturut-turut.

Penguatan yang lalu harga emas ditopang anjloknya ekuitas global dan pelemahan dolar.

Saham AS yang terbatas rentang ketat Kamis dan ekuitas pasar luar negeri berakhir sebagian besar lebih tinggi, yang memotong beberapa permintaan agresif untuk emas sebagai perlindungan jangka pendek di tengah risiko-off pergeseran sentimen pasar.

Emas untuk pengiriman Aprool turun US$ 2,5 atau 0,,2 persen untuk menetap di level US$ 1.247,20 per ounce. Pada hari sebelumnya, harga emas berada di level US$ 1.247,2 per ounce.

Menurut FactSet, harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1 Maret.

Kekhawatiran soal kemampuan Presiden Donald Trump untuk secara cepat menetapkan kebijkan pro pertumbuham seperti yang dijanjikannya pada masa kampanye, telah membantu mengurangi permintaan untuk aset yang dianggap beresiko. 


Harga Minyak Dunia Turun Akibat Kelebihan Pasokan

Harga minyak kembali melanjutkan pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat. Pemicu pelemahan harga minyak masih dipengaruhi oleh fokus dari kelebihan pasokan di pasar global.

Rekor dari persediaan minyak mentah AS menumbuhkkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan di global, meskipun ada harapan bahwa permintaan bensi di AS akan tumbuh hingga musim panas.

Melansir Marketwatch, Jumat (24/3/2017), harga minyak Amerika Serikat, West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun 34 atau 0,7 persen, untuk menetap di level US$ 47,7 per barel pada bursa New York Mercantile Exchange.

Data dari FactSet menunjukkan bahwa harga sempat menyentuh kenaikan tiga sesi berturut-turut. Namun diakhiri penurunan di sesi keempat pada Kamis.

Sementara harga minyak acuan global Brent turun 8 sen atau 00,2 persen untuk menetap di level US$ 50,56 per barel di London’s ICE Futures.

Harga minyak mengalami pelemahan di sesi akhir pada Rabu, tapi tetap ditutup lebih rendah. Data awal dari Administrasi Informasi Energi AS Administration menunjukkan bahwa pasokan minyak mentah AS naik 5 juta barel menyentuh rekor hingga 533,1 juta barel. 

Sumber : liputan6.com


Kamis, 23 Maret 2017

Dolar AS Melemah Tertekan Prospek Kenaikan Suku Bunga

RIFANFINANCINDO - Kurs dolar AS berakhir lebih rendah terhadap sebagian besar mata uang utama pada Rabu (Kamis pagi WIB, 23 Maret 2017), tertekan meningkatnya keraguan tentang potensi laju kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Bank sentral AS, Federal Reserve, telah memutuskan menaikkan kisaran target suku bunga acuan federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 0,75-1,0 persen pada Rabu, 15 Maret 2017.

The Fed juga mengatakan bahwa para pembuat kebijakan memperkirakan suku bunga akan naik menjadi sekitar 1,4 persen pada akhir 2017, tidak berubah dari perkiraan semula, menyiratkan dua kali lagi kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Sejak saat itu, greenback telah berada di bawah tekanan karena The Fed gagal memberikan sinyal kecepatan yang lebih cepat untuk kenaikan suku bunga acuan selanjutnya.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,15 persen menjadi 99,659 pada akhir perdagangan Rabu, 22 Maret 2017.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,0804 dolar AS dari 1,0802 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,2485 dolar AS dari 1,2483 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7681 dolar AS dari 0,7699 dolar AS.

Dolar AS dibeli 110,87 yen Jepang, lebih rendah dari 111,88 yen dari sesi sebelumnya. Dolar AS merosot menjadi 0,9916 franc Swiss dari 0,9942 franc Swiss, dan turun tipis menjadi 1,3343 dolar Kanada dari 1,3348 dolar Kanada.


Analis: Rupiah Diprediksi Cenderung Melemah 

Kepala Riset Bina Artha Securities Reza Priyambada mengatakan, pada perdagangan valuta asing hari ini, diperkirakan kurs rupiah akan cenderung melemah.

"Seperti pergerakan historis sebelumnya, adanya pelemahan biasanya akan diikuti dengan pelemahan lanjutan. Laju Rupiah kami perkiraan dapat bergerak variatif cenderung melemah," kata Reza Priyambada dalam pesan tertulisnya, Kamis, 23 Maret 2017.

Reza memperkirakan, pada perdagangan hari ini rupiah akan bergerak dengan kisaran support Rp 13.360 dan resisten Rp 13.290.

Adapun pada perdagangan kemarin pergerakan rupiah kembali melemah. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, rupiah ditutup turun 27 poin atau 0,2 persen ke level Rp 13.335 dari sebelumnya di level 13.308.

Menurut Reza, pergerakan Rupiah hingga pertengahan pekan ini mulai terlihat berkurang penguatannya. Meski laju dolar AS masih menunjukan pelemahan dan berimbas pada terapresiasinya laju yen Jepang, namun penguatan yen Jepang yang cukup signifikan memberikan alternatif pilihan transaksi lain. Sehingga permintaan terhadap yen Jepang pun meningkat.

Selain itu, laju rupiah yang telah menguat dalam beberapa hari sebelumnya juga dimanfaatkan pasar untuk aksi ambil untung atau take profit, sehingga berimbas pada pelemahan.

Sumber : tempo.co

Rabu, 22 Maret 2017

Pelemahan Dolar AS Dukung Reli Harga Emas

RIFAN FINANCINDO -  Harga emas terus naik dan mendekati level tertinggi dalam tiga pekan terakhir pada perdagangan Selasa ini. Memudarnya harapan akan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS menjadi pendorong kenaikan harga emas.

Mengutip Reuters, Rabu (22/3/2017), harga emas di pasar spot naik 0,9 persen ke level US$ 1.244,48 per ounce. Level tersebut mendekati harga tertinggi yaitu US$ 1.247,60 yang ditorehkan pada 2 Maret lalu. Sedangkan harga emas berjangka untuk pengiriman April ditutup naik 1 persen pada US$ 1.246,50.

Pelemahan dolar AS akibat pupusnya harapan pelaku pasar akan rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed). Dolar AS jatuh ke level terendah dalam enam pekan terakhir.

The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tidak akan agresif. Padahal sebelumnya para pelaku pasar berharap bahwa kenaikan bunga acuan tersebut bisa lebih cepat dari perhitungan awal.

Sinyal dari the Fed tersebut membuat dolar AS tertekan dan memberikan keuntungan kepada harga emas. Biasanya memang gerak harga emas berkebalikan dengan dolar AS. Dengan pelemahan dolar AS akan membuat pelaku pasar yang bertransaksi dengan mata uang di luar dolar AS akan lebih untung.

"Setelah tertekan cukup dalam pada bulan kemarin, harga emas sangat terbantu dengan kenaikan suku bunga yang tidak terlalu agresif ini," jelas analis Mitsubishi Jonathan Butler.

Harga emas memang telah meningkat sejak Rabu pekan lalu, terpicu melemahnya dolar AS usai the Fed mengumumkan kenaikan suku bunga. 


Kekhawatiran Kelebihan Pasokan Kembali Tekan Harga Minyak

Harga minyak jatuh pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Harga minyak mentah AS melemah ke level terendah sejak November karena kekhawatiran tumbuhnya pasokan baru di tengah pembicaraan perpanjangan kesepakatan pemotongan pasokan.

Mengutip Reuters, Rabu (22/3/2017), harga minyak jenis Brent yang merupakan patokan dunia untuk pengiriman Mei turun 66 sen atau 1,3 persen dan menetap di angka US$ 50,96 per barel. Angka ini merupakan harga terendah sejak 14 Maret 017.

Sedangkan harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 88 sen atau 1,8 persen dan menetap di US$ 47,34 per barel. Angka tersebut merupakan harga terendah sejak 29 November 2016.

Penurunan harga minyak ini karena kehawatiran dari pelaku pasar bahwa pasokan minyak terus meningkat jauh di atas kebutuhan pasar. Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan beberapa negara produsen minyak non-OPEC pada 30 November kemarin sepakat untuk memangkas produksi 1,8 juta barel per hari dari periode awal Januari hingga akhir Juni.

Pemangkasan produksi ini untuk menahan kejatuhan harga minyak ke level yang lebih rendah karena produksi yang lebih tinggi dibanding dengan permintaan. Namun menurut analisis dari Goldman Sachs, kesepakatan pemotongan produksi tersebut tidak bisa menutup kelebihan produksi karena adanya beberapa pembangunan sumur baru dari negara-negara yang tidak ikut dalam kesepakatan.

"Ada beberapa negara yang tidak ikut dalam kesepakatan justru melakukan produksi besar-besaran," jelas analis energi dari ION Energy, Houston, AS, Kyle Cooper.

Oleh karena itu, beberapa analis mengatakan bahwa kesepakatan untuk megurangi atau memangka produksi buruh waktu lebih panjang untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Bahkan jika perlu pemangkasan produksi dilakukan dalam satu tahun penuh sehingga tujuan jangka panjang untuk mendorong kembali harga minyak bisa terwujud.

OPEC sendiri akan kembali mengadakan pertemuan dalam waktu dekat ini untuk membahas mengenai rencana perpanjangan kesepakatan pemotongan produksi. Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di OPEC memberikan sinyal positif untuk tetap memperpanjang pemotongan produksi. Namun beberapa negara di luar OPEC seperti Rusia belum memberikan tanggapannya. 

Sumber : liputan6.com

Selasa, 21 Maret 2017

IHSG Dibuka Menguat Terpengaruh Sentimen Regional

PT RIFAN FINANCINDO -  Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghijau pada pembukaan perdagangan Selasa ini. Pergerakan indeks akan terpengaruh sentimen regional.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Selasa (21/3/2017), IHSG naik 7,05 poin atau 0,13 persen ke level 5,541,04. Pada pembukaan pukul 09.00, IHSG terus menguat dengan naik 10,24 poin atau 0,19 persen ke level 5.543,82. Indeks saham LQ45 mendaki 0,21 persen ke level 923,98.

Ada sebanyak 84 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 29 saham melemah dan 95 saham diam di tempat.

IHSG sempat berada di level tertinggi 5.549,07 dan terendah 5.539,72. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 8.176 kali dengan volume perdagangan 430,7 juta saham. Nilai transaksi harian di kisaran Rp 158,9 miliar. Investor asing melakukan aksi beli Rp 1 miliar di seluruh pasar. Sedangkan posisi dolar AS tercatat Rp 13.300.

Secara sektoral, hampir semua menguat. Hanya sektor industri dasar yang bergerak melemah 0,08 persen. Sektor saham keuangan naik 0,38 persen dan catatkan penguatan terbesar di awal sesi. Selain itu, sektor saham aneka industri mendaki 0,33 persen dan sektor saham perkebunan naik 0,32 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham MDRN mendaki 21,62 persen ke level Rp 90 per saham, saham MKNT melonjak 18,69 persen ke level Rp 470 per saham, dan saham TIRT naik 17,92 persen ke level Rp 250 per saham.

Saham-saham PUDP merosot 8,93 persen ke level Rp 408 per saham, saham RIGS tergelincir 7m84 persen ke level Rp 188 per saham, dan saham PORT turun 4,71 persen ke level Rp 486 per saham.

Berdasarkan riset DBS, Wall Street semalam bergerak melemah. Presiden The Fed Chicago Charles Evans menyatakan bahwa The Fed tidak akan mempercepat kenaikan suku bunga US dan tetap mempertahankan 3 kali kenaikan tahun ini. Namun, ini dapat berubah jika inflasi naik.

Perhatian investor akan tertuju kepada pernyataan dari para anggota The Fed lainnya seperti Mester (Cleveland) dan Rosengren (Boston) yang akan berbicara nanti malam. Sementara Yellen dijadwalkan akan berbicara Kamis esok.

Analis PT BNI Securities Maxi Liesyaputra menjelaskan, kemarin IHSG terkoreksi tipis sebesar 0,1 persen setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut pada minggu lalu. IHSG ditutup di posisi 5.533,992 dengan pergerakan yang sangat fluktuatif.

"Meskipun indeks turun, asing masih mencatatkan aksi beli bersih dalam jumlah yang signifikan sebesar Rp 830 miliar," jelas dia.

Bursa regional Asia Pasifik pada pagi ini seperti Nikkei yang mencatat penurunan secara signifikan terutama karena penguatan yen Jepang terhadap dolar AS. Hal tersebut terjadi seiring dengan mulai adanya perdebatan di kalangan Federal Reserve mengenai waktu untuk kenaikan tingkat suku bunga selanjutnya.

"Kisaran indeks hari ini kami perkirakan akan bergerak di antara 5.480 sampai 5.550 dengan beberapa saham pilihan di antaranya JPFA, ASII dan WIKA," tutup dia.

( liputan6.com )


 
Disclaimer: Semua informasi yang terdapat dalam blogspot kami ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan berita terbaik, namun demikian kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blogspot kami ini. Kami berhak mengatur dan menyunting isi saran atau tanggapan dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menolak isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras.