PT Rifan Financindo Berjangka Solo

PT.Rifan Financindo Berjangka

SOLO Ruko Solo Square No. 5,6, dan 7 Jl. Slamet Riyadi No. 451 - 455, Surakarta 57145 Telp : (0271) 738 111 (Hunting), Fax : (0271) 738 222

Investasi Emas

Investasi Emas Berjangka Emas berjangka merupakan alternatif lain dalam melakukan investasi emas tanpa harus memiliki fisik emas. Jual beli emas berjangka membutuhkan kontrak dengan jangka tertentu. Harganya pun dinyatakan dalam kontrak. Jika harga emas pada tanggal kontrak lebih tinggi dari harga emas saat kontrak dibuat, investor akan menerima keuntungan. Namun, jika harga lebih rendah, investor akan mengalami kerugian. Investasi dalam emas berjangka mungkin merupakan investasi yang cukup berisiko karena investor harus memperkirakan gerak harga emas ke depan.

WPB yang Profesional

Perusahaan memiliki Wakil Pialang Berjangka profesional yang selalu siap memberikan pelayanan kepada calon nasabah / nasabah,berupa edukasi, prosedur administrasi dan mekanisme transaksi Sistem Perdagangan Alternatif di Bursa Berjangka Jakarta.

Pelaporan Transaksi setiap hari

Setiap hari nasabah akan mendapat Laporan Transaksi Nasabah yang berisikan catatan transaksi dan perkembangan investasi yang telah dilakukan oleh nasabah, baik via SMS, e-mail, fax, maupun melalui surat/pos. Catatan atau rekam transaksi tersebut juga dapat diakses langsung melalui online trading platform dengan memilih menu utama Temporary Statement/Daily Statement.

Outing Pondok Asri Tawangmangu

PT.Rifan Financindo Berjangka Mengadakan Outing 8 th Anniversary Bersama Back Office-Marketing Di Pondok Asri Tawangmangu, Karanganyar

Jumat, 22 September 2017

Antisipasi The Fed, BI Berpotensi Tahan Suku Bunga Acuan

RIFAN FINANCINDO  - Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) di level 4,5 persen. Ini sebagai upaya mengantisipasi normalisasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Bulan lalu, BI menetapkan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bsp), setelah nyaris satu tahun lamanya menahan untuk tak mengerek BI-7DRRR.
Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memproyeksi, BI tak akan melanjutkan pelonggaran moneter melalui pemangkasan suku bunga acuan bulan ini.

Sinyal normalisasi kebijakan The Fed terus menguat dalam rapat terakhir Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC meeting), di mana Gubernur The Fed Jenet Yellen mengatakan optimismenya terhadap perkembangan ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja AS.

"Optimisme itu mendukung The Fed untuk mulai melakukan penurunan neraca keuangan yang saat ini mencapai $4,5 triliun di mana pada tahap awal akan mulai mengurangi sebesar $10 miliar tiap bulannya dan akan meningkat ke depannya, hingga mencapai $50 miliar tiap bulannya pada tahun depan," ujarnya melalui pesan singkat kepada cnnindonesia.com, Jumat (22/9).

Selain pengurangan neraca, pasar juga masih memperkirakan The Fed bakal sekali lagi menaikkan suku bunga acuannya (FFR) sebesar 25 bps pada tahun ini, dan tiga kali atau 75 bps secara akumulatif pada tahun depan.

Langkah normalisasi kebijakan The Fed ini juga sudah direspon oleh pasar, di mana setelah rapat FOMC, nilai tukar dolar menguat terhadap semua mata uang serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, US Treasury.

"Normalisasi kebijakan the Fed ini perlu diantisipasi oleh BI, mengingat bank sentral Eropa dan beberapa negara maju lainnya diperkirakan juga merespon dengan memperketat kebijakan moneternya, seiring dengan pemulihan ekonomi," kata Josua.

Dari sisi internal, lanjutnya, BI diperkirakan masih mengevaluasi transmisi kebijakan moneter pada perekonomian setelah BI kembali memberikan kelonggaran pada bulan sebelumnya.

Senada dengan Josua, ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro juga meyakini, bank sentral menjaga suku bunga acuannya di level 4,5 persen.

Ia memperkirakan, pemangkasan kembali BI7DRRR baru dilakukan kuartal IV 2017 nanti. Alih-alih memangkas suku bunga, menurut Andry, BI akan memilih mengeluarkan kebijakan makroprudensial, seperti merealisasikan wacana ketentuan uang muka kredit properti berdasarkan wilayah atawa LTV spasial.

“Kebijakan LTV spasial mendorong sektor properti lebih baik lagi. Sektor properti akan memengaruhi sekitar 160 subsektor lainnya, dan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja," terang Andry.


Momentum Tepat Pangkas Bunga Acuan

Pandangan berbeda datang dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Ia memprediksi, bank sentral kembali memangkas bunga acuan sebesar 25 bsp menjadi 4,25 persen bulan ini.

Hal ini dilakukan setelah tekanan terhadap rupiah cenderung berkurang dan inflasi Agutus mencatat deflasi sebesar -0,07 persen.

“BI juga diprediksi ingin melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter lebih jauh agar suku bunga kredit turun dan dorongan pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat. Meskipun, transmisi penurunan kebijakan suku bunga baru terasa di awal 2018," jelas Bhima.

Menurut dia, fundamental ekonomi domestik masih cukup bagus untuk mendukung keputusan BI. Salah satunya, tercermin dari posisi cadangan devisa menyentuh rekor US$128,8 milyar pada bulan lalu.

Surplus neraca perdagangan Agustus 2017 juga meningkat hingga US$1,72 milyar yang menandakan laju ekspor lebih baik dari tahun sebelumnya.

Dari faktor eksternal, sambung dia, pertimbangan untuk menurunkan BI7DRRR berasal dari besarnya kemungkinan The Fed akan menahan FFR hingga akhir tahun ini setelah mendengar pidato Yellen dalam FOMC meeting bulan ini.

Data tenaga kerja dan inflasi AS masih belum sesuai ekspektasi The Fed. Kemudian, rencana perubahan balance sheet Fed yang dimulai Oktober diprediksi bertahap, sehingga efek kejutan ke pasar finansial Indonesia tidak mengganggu likuiditas.

"Tahap pertama, normalisasi balance sheet AS kemungkinan sebesar 10 miliar dolar," tutur dia.

Selain itu, meskipun risiko geopolitik di Korea masih memanas, AS sedang fokus dalam isu internal terutama paska badai Harvey dan Irma. Oleh karena itu, kuat dugaan BI bakal memanfaatkan ruang penurunan BI7DRRR pada bulan ini.

Sebagai informasi, BI bakal mengumumkan BI7DRRR September sore nanti, setelah Dewan Gubernur BI selesai menggelar rapat bulanan. ( cnnindonesia.com )



Selasa, 19 September 2017

Bea Cukai Cari Formula Tepat Penuhi Target Pendapatan 2018

PT RIFAN FINANCINDO - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai saat ini tengah mencari formula yang tepat untuk memenuhi target pendapatan yang telah ditetapkan pemerintah pada 2018.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, pihaknya sedang mencari strategi yang optimal untuk merealisasikan target pendapatan yang ditetapkan pemerintah untuk 2018 sebesar Rp155,4 triliun.

"Ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu pengawasan terhadap rokok ilegal dan kedua adalah mengenai kebijakan tarifnya," kata Heru kepada sejumlah media di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Sebelumnya, Heru mengungkapkan, kenaikan cukai rokok 2018 minimum sebesar 8,9%. Namun demikian, menurutnya, kenaikan cukai yang berlebih pasti akan mendorong produsen dan konsumen memilih produk yang ilegal.

"Kenaikan tarif akan berdampak pada harga jual, sedangkan daya beli masyarakat belum sampai sana. Maka opsinya adalah membeli yang ilegal itu, karena tidak harus bayar cukai," tambah Heru.

Saat ini, menurut survei yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM), tingkat ketersediaan rokok ilegal di Indonesia terus mengalami kenaikan, dari 11,73% di 2014 menjadi 12,14% di 2016.

Secara terpisah, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moefti menyampaikan bahwa kenaikan cukai terlalu tinggi akan memicu maraknya perdagangan rokok ilegal dan mempercepat kematian industri rokok nasional. Hal ini membahayakan penerimaan negara dari cukai dan kelangsungan usaha serta tenaga kerja di dalamnya.

"Di tengah terus menurunnya industri dalam beberapa tahun terakhir ini. Kami berharap persentase kenaikan tarif cukai 2018 paling tinggi sebesar 4,8%, yaitu sama dengan persentase kenaikan target penerimaan cukai seperti tercantum di RAPBN 2018. Jangan lagi ada beban tambahan bagi industri," tutur Moefti.

Selain dari sisi tarif, Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia Abdillah Ahsan mengatakan, saat ini sistem cukai di Indonesia tergolong rumit, sehingga pada akhirnya menimbulkan menjamurnya rokok ilegal.

"Sistem cukai rokok yang rumit menimbulkan peluang kesalahan personifikasi perusahaan, jual beli pita cukai antara perusahaan kecil ke perusahaan besar dan memperlambat proses pencetakan pita cukai," terang dia. 
( sindonews.com )


PT RIFAN FINANCINDO           RIFAN FINANCINDO             RIFANFINANCINDO

Senin, 18 September 2017

Gerakan Nontunai Dinilai Hanya Untungkan Perbankan

RIFANFINANCINDO -  Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) menilai Gerakan Nasional Nontunai hanya menguntungkan bisnis perbankan dan mencederai hak konsumen.

Presiden ASPEK Indonesia Mirah Sumirat berpendapat, Gerakan Nasional Nontunai akan menyebabkan dana masyarakat mengendap hingga triliunan rupiah, dan hanya menguntungkan perusahaan perbankan.

Hal itu tercermin dari pemberlakukan pembayaran nontunai melalui Gardu Tol Otomatis (GTO) di sejumlah ruas tol.

"Sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) berimbas pada pemberlakuan GTO yang akan dipaksakan oleh Bank Indonesia dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk pada Oktober 2017," ujar Mirah dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Senin (18/9).

Ketika masyarakat menggunakan alat pembayaran tarif jalan tol elektronik (e-toll), kerugian pertama adalah dari potongan uang kartu sebesar Rp10.000 - Rp20.000. Pengguna jalan sudah dipaksa setor ke bank atas nama biaya kartu.

Kerugian kedua, pengguna jalan juga terpaksa harus mengendapkan dananya di dalam kartu pembayaran, meski tak setiap menggunakan ruas tol. Jika diakumulasi, ada triliunan rupiah dana mengendap milik para pengguna jalan.

"Kerugian ketiga, potensi triliunan rupiah yang akan digarap bank dari selisih saldo minimal dengan tarif tol terendah," tutur dia.

Dijelaskan lebih lanjut, tarif terendah adalah Rp10.000. Jadi, ketika saldo yang ada kurang dari Rp10.000, dipastikan sisa saldo itu tak pernah bisa dimanfaatkan oleh pemilik kartu dan akan menjadi milik bank.

Kerugian terakhir, lanjut dia, masyarakat dibebani biaya administrasi setiap isi ulang saldo e-toll dengan dalih bank ingin belanja mesin nontunai.

Mirah juga mengingatkan, GNNT akan menyasar pada transaksi kebutuhan dasar masyarakat yang lainnya seperti, pembelian bahan bakar minyak (BBM). Seperti diketahui, PT Pertamina juga akan mewajibkan pembelian BBM hanya dengan nontunai.

Asosiasi itu juga mempertanyakan perlindungan hak konsumen jika kewajiban transaksi nontunai disertai biaya-biaya. ( cnnindonesia.com )


RIFANFINANCINDO          RIFAN FINANCINDO                  PT RIFAN FINANCINDO

Jumat, 15 September 2017

Dow Jones Tembus Rekor Tertinggi Lagi Berkat Saham Boeing

RIFAN FINANCINDO - Kenaikan saham Boeing menarik Dow Jones Industrial Average ke rekor tertinggi pada penutupan perdagangan kemarin. Sementara, Indeks S & P 500 turun karena investor melihat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan yang meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/9/2017), Indeks Dow Jones naik 0,2% menjadi 22.203,48, Indeks S & P 500 kehilangan 0,11% menjadi 2.495,62, dan Nasdaq Composite turun 0,48% menjadi 6.429,08, terluka oleh penurunan saham Apple sebesar 0,86%.

Dow Jones menguat dalam tiga hari berturut-turut didorong menguatnya saham Boeing yang naik 1,36% setelah Deutsche Bank menaikkan target harga pada saham kedirgantaraan dan pertahanan.

Sementata, Indeks S & P 500 dan Nasdaq bergerak lebih rendah setelah sebuah laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga konsumen naik lebih dari yang diperkirakan pada Agustus. Hal ini meningkatkan kemungkinan akan terjadi kenaikan suku bunga lagi tahun ini.

Indeks harga konsumen (CPI) naik 0,4% pada bulan lalu dan menjadi kenaikan terbesar dalam tujuh bulan dan merupakan data ekonomi utama terakhir yang akan dirilis menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 19-20 September.

"Saya tidak berpikir pasar mengharapkan kekuatan semacam itu dalam hal inflasi. Apa yang orang inginkan adalah apakah Yellen (kepala The Fed) akan berbicara tentang kurangnya inflasi sebagai sesuatu yang sementara, atau apakah hal itu terus berlanjut," kata Victor Jones, direktur perdagangan TD Ameritrade.

Setelah data tersebut, peluang kenaikan pada bulan Desember naik di atas 50% untuk pertama kalinya sejak Juli, dari 41,3%, menurut alat FedWatch CME Group.

Enam sektor dari 11 sektor di Indeks utama S & P 500 naik, dipimpin oleh peningkatan sektor utilitas sebesar 0,88%. Sektor energi juga naik 0,39% setelah harga minyak mentah AS mencapai level USD50 per barel untuk pertama kalinya sejak 10 Agustus pada perkiraan permintaan bullish oleh International Energy Agency.

Dibantu oleh laporan pendapatan perusahaan yang kuat dan optimisme bahwa Presiden Donald Trump akan memotong pajak bisnis, Dow Jones telah menguat 12% sepanjang tahun ini. Sementara, Indeks S & P 500 naik 11% di 2017, diperdagangkan pada 17,6 kali pendapatan yang diharapkan, dibandingkan dengan rata-rata 10 tahun di angka 14,3, menurut Thomson Reuters Datastream.

"Saya tidak mengambil uang dari saham, tapi ketika uang baru masuk, saya menambah pendapatan tetap kami, apakah itu saham preferen, obligasi korporasi atau sekuritas berbasis mortgage," kata Jake Dollarhide, chief executive officer of Longbow Manajemen Aset di Tulsa.

Indeks discretionary konsumen tercatat turun 0,54% ditarik ke bawah oleh penurunan 0,43% pada saham Amazon.com  dan penurunan 0,93% yang dialami saham Walt Disney. Saham Equifax juga terpantau turun 2,35% setelah Federal Trade Commission membuka penyelidikan terhadap pelanggaran data perusahaan yang besar. ( sindonews.com )


RIFAN FINANCINDO            RIFANFINANCINDO            PT RIFAN FINANCINDO

Kamis, 14 September 2017

Saham Apple Anjlok, Wall Street Kembali Cetak Rekor Tertinggi

RIFAN FINANCINDO - Wall Street pada perdagangan kemarin naik tipis, namun kembali mencetap rekor tertinggi karena kenaikan sektor discretionary dan energi konsumen mengimbangi kerugian di sektor teknologi kelas berat, Apple Inc.

Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (14/9/2017), Indeks Dow Jones Industrial Average naik naik 39,32 poin atau 0,18% ke level 22.158,18, Indeks S & P 500 naik 16,89 poin atau 0,08% ke level 2.498,37, dan Nasdaq Composite naik 5,91 poin atau 0,09% ke level 6.460,19.

Saham Apple (AAPL.O) turun 0,8% karena adanya kekhawatiran bahwa perusahaan yang baru meluncurkan iPhone X terlalu mahal dan karena ketersediaannya mulai November nanti dari yang diperkirakan. Dengan saham yang dipegang luas hingga 37% sepanjang tahun ini, beberapa analis mengatakan sudah waktunya untuk mencairkan keuntungan.

Bahkan dengan kerugian sahan Apple, Indeks S & P 500, rata-rata industri Dow Jones dan Nasdaq ditutup pada tingkat rekor, dibantu oleh sektor konsumen lainnya. Sektor energi di Indeks S & P naik setelah Badan Energi Internasional mengatakan bahwa surplus minyak mentah global mulai menyusut.

Indeks tersebut telah mencapai beberapa catatan tahun ini, meskipun ada kemunduran akibat gejolak di Gedung Putih, waktu kenaikan suku bunga AS, keraguan tentang kemampuan Presiden Donald Trump untuk mendorong reformasi pro-bisnisnya, dan akhir-akhir ini, ketegangan mengenai senjata nuklir Korea Utara.

Indeks S & P 500 naik 11,6% sepanjang 2017, diperdagangkan 17,6 kali pendapatan yang diharapkan, mahal dibandingkan dengan rata-rata 10 tahun di 14,3, menurut Thomson Reuters Datastream.

Saham penyedia skor kredit Equifax (EFX.N) anjlok 14,6% dan mencapai titik terendah lebih dari 1,5 tahun setelah permintaan maaf oleh Chief Executive perusahaan Richard Smith karena pelanggaran data yang besar gagal untuk menenangkan investor.

"Tentu saja itu harus ditumbuk dan situasinya semakin memburuk. Mereka memiliki masalah besar di tangan mereka. Fakta (CEO) sangat angkuh - butuh waktu lima hari untuk menulis tanggapan, ini adalah bencana," kata Ken Polcari, direktur divisi NYSE di O'Neil Securities di New York.

Saham Target Corp (TGT.N) naik 2,8% setelah perusahaan pengecer mengatakan akan mempekerjakan 100.000 pekerja untuk musim liburan, 43% lebih banyak dari tahun lalu. Saham Chevron Corp naik 1,5%, meningkatkan Dow Jones, sementara kenaikan 1,7% saham Amazon.com Inc (AMZN.O) mendorong Nasdaq.

Saham Nordstrom Inc naik 6,0% setelah keluarga pendiri perusahaan tersebut memilih perusahaan ekuitas swasta Leonard Green & Partners untuk membantu mengambilnya secara pribadi. 


Emas Antam Naik Rp19.000/Gram Saat Emas Dunia Turun
Harga jual emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan hari ini turun setelah kemarin naik tipis. Penurunan harga emas Antam hari ini terjadi saat harga emas dunia melemah.

Dilansir dari situs Logammulia.com, Kamis (14/9/2017) harga emas Antam berada di level Rp619.000/gram atau turun Rp3.000 dari sebelumnya Rp622.000/gram. Sementara harga buyback justru meroket Rp19.000 menjadi Rp569.000/gram dari sebelumnya Rp550.000/gram.

Sementara, harga emas Antam ukuran 2 gram dibanderol Rp1.198.000 dengan harga per gram Rp599.000. Harga emas 3 gram dipatok Rp1.779.000 dengan harga per gram Rp593.000. Sedangkan harga emas 4 gram senilai Rp2.360.000 dengan harga per gram Rp590.000.

Emas ukuran 5 gram sebesar Rp2.950.000 dengan harga per gram Rp590.000. Harga emas 10 gram dijual Rp5.825.000 dengan harga per gram Rp582.500. Harga emas 25 gram Rp14.425.000 dengan harga per gram Rp577.000. Harga emas 50 gram sebesar Rp14.425.000 dengan harga per gram Rp577.000.

Selanjutnya, harga emas 100 gram sebesar Rp57.225.000 dengan harga per gram Rp572.250. Untuk harga emas 250 gram mencapai Rp142.675.000, dengan harga per gram Rp570.700 dan harga emas ukuran 500 gram dihargai Rp284.975.000 dengan harga per gram Rp569.950.

Sedangkan harga emas Antam di Pulogadung juga turun ke level Rp609.000/gram dari sebelumnya Rp612.000/gram dengan harga buyback melonjak level Rp569.000/gram. Penurunan juga terjadi pada harga emas Antam di Jakarta II yang melemah ke level Rp619.000/gram dengan buyback di posisi Rp569.000/gram.

Seperti dilansir Reuters hari ini, harga emas dunia turun lagi barada di kisaran terendah dalam hampir dua pekan, dengan investor mengalihkan perhatian mereka ke data inflasi konsumen AS di kemudian hari sebagai petunjuk tentang kenaikan suku bunga.

Harga emas di pasar spot turun 0,2% ke level USD1.320,21 per ons pada pukul 00.48 GMT, setelah sebelumnya turun ke titik terendah sejak 1 September di posisi USD1.318,96. Sementara, harga emas AS untuk pengiriman Desember juga turun 0,3% ke level USD1.324,50 per ons. 

Sumber : sindonews.com

RIFAN FINANCINDO           RIFANFINANCINDO           PT RIFAN FINANCINDO

Rabu, 13 September 2017

Preferensi Investor Global Kembali ke Aset Berisiko, Emas Rupiah Balik ke Rp560’an Ribu

PT RIFAN FINANCINDO - Harga emas dunia terpantau melorot ke posisi terendahnya dalam seminggu terakhir ini sejalan dengan kembalinya preferensi investor terhadap aset-aset berisiko seperti saham di bursa global.

Hari ini sejumlah bursa saham Asia terlihat mencapai posisi puncaknya beberapa tahun terakhir, dengan investor sedikit lega dari kekuatiran sebelumnya terhadap ancaman test nuklir Korea Utara serta dengan tidak terjadinya prediksi skenario terburuk atas badai Irma di Amerika. Berkurangnya potensi risiko menyebabkan pilihan emas sebagai aset safe-haven dikurangi dalam portfolio investor global, sekaligus untuk menarik profit setelah emas sempat bertengger di puncak tertinggi setahunnya (12/9).

Harga spot emas berada di level $1326,15 per ounce sore ini, sementara dalam rupiah harga emas tergerus balik ke level Rp563.269 per gramnya, setelah sempat menembus Rp570.000’an pada minggu lalu.

Badai Irma sebelumnya dinyatakan sebagai badai lautan Atlantik yang paling kuat dalam sejarahnya. Kategorinya dari 5 (maksimum) kemudian turun menjadi di bawah 1, sebagai badai tropis, setelah memasuki kawasan Semenanjung Florida, Amerika Serikat.

Di tempat lain, kekuatiran pasar terhadap Korea Utara mereda setelah negara tersebut merayakan hari besar founder negeri tidak dengan melakukan percobaan nuklir lagi.

Bursa-bursa di Asia hari ini dalam bias positif. Sementara IHSG masih berkonsolidasi di sekitar level 5865 – 5870 menjelang penutupan pasar, dan tetap berpeluang untuk menguat di minggu ini.

Analis Vibiznews menilai bahwa harga spot emas wajar terkoreksi menuju $1300 setelah rally panjang sebelum ini, namun bisa rebound sewaktu-waktu ketika ancaman risiko meningkat. Korea Utara tetap merupakan titik potensi risiko geopolitik yang dapat menggerakkan pasar, sedangkan di Amerika sehabis badai Irma, ada badai Jose yang mungkin menyusul. Investor perlu mencermati pergerakan pasar secara cermat untuk keuntungan optimum portfolio investasinya. ( vibiznews.com )

PT RIFAN FINANCINDO           RIFAN FINANCINDO                RIFANFINANCINDO

Selasa, 12 September 2017

Badai Harvey Berlalu, Harga Minyak Mentah Mulai Naik

RIFANFINANCINDO -  Harga minyak naik tipis usai badai Harvey yang melanda Texas, Amerika Serikat (AS) berangsur pergi.

Dikutip dari Reuters, perginya badai membuat sejumlah kilang utama di AS kembali aktif. Misalnya, Motiva Enterprises di Teluk AS, yang kembali melakukan penyulingan dengan kapasitas minimum mencapai 32 ribu barel per hari (bph).

Tercatat, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,6 atau menguat 0,1 persen menjadi US$53,84 per barel. Begitu pula dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang naik US$0,59 atau 1,2 persen menjadi US$48,07 per barel.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari kemungkinan perpanjangan pakta produksi selama 15 bulan dari para anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

Adapun sinyal perpanjangan produksi terlihat dari pertemuan Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al Fatih dengan Venezuela dan Kazakhstan pada akhir pekan kemarin. Pertemuan itu guna membahas kesepakatan untuk memangkas produksi sekitar 1,8 juta bph sampai Maret 2018.

Kemudian, pada Senin kemarin, Falih juga bertemu dengan Uni Emirat Arab untuk mempertimbangkan perpanjangan setelah Maret 2018.

Kendati harga minyak mentah meningkat, harga bahan bakar minyak (BBM) justru terkoreksi lantaran terkena sentimen dari Badai Irma yang melanda Florida, Georgia, Carolina Selatan, dan Alabama. Alhasil, harga bensin melemah 0,7 persen dan harga solar turun hingga 1,4 persen.

Meski mengoreksi harga BBM, konsultan energi WTRG Economics James Williams melihat, pengaruh dari Badai Irma tidak besar. "Sementara beberapa orang prihatin dengan sisi permintaan (akibat Badai Irma), saya rasa ini bukan masalah besar," ucap James, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (12/9).

( cnnindonesia.com )


RIFANFINANCINDO                RIFAN FINANCINDO          PT RIFAN FINANCINDO

 
Disclaimer: Semua informasi yang terdapat dalam blogspot kami ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan berita terbaik, namun demikian kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari blogspot kami ini. Kami berhak mengatur dan menyunting isi saran atau tanggapan dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menolak isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras.